Penilaian Afektif
Ranah afektif
berkenaan dengan sikap dan nilai. Sikap merupakan konsep psikologis yang kompleks,
sikap berakar dalam perasaan. Anastasi mendefenisikan sikap sebagai
kecenderungan untuk bertindak secara suka atau tidak suka terhadap sesuatu
objek. Birrent mendefenisikan sikap sebagai kumpulan hasil evaluasi seseorang
terhadap objek, orang atau masalah tertentu. Sikap menentukan bagaimana
keperibadian seseorang diekspresikan, oleh karena itu, melalui sikap seseorang
kita dapat mengenal siapa orang itu sebenarnya.
Ranah afektif berkenaan dengan sikap dan nilai. Beberapa
ahli mengatakan bahwa sikap seseorang dapat diramalkan perubahannya, bila
seseorang telah memiliki penguasaan kognitif tingkat tinggi. Penilaian hasil
belajar afektif kurang mendapat perhatian dari guru. Para guru lebih banyak
menilai ranah kognitif semata-mata. Tipe hasil penilaian afektif tampak pada
siswa dalam berbagai tingkah laku seperti perhatiannya terhadap pelajaran,
disiplin, motivasi belajar, menghargai guru dan teman sekelas, kebiasaan
belajar, dan hubungan sosial.
Sekalipun bahan pelajaran berisi ranah kognitif, ranah
afektif harus menjadi bagian integral dari bahan tersebut dan harus tampak
dalam proses belajar dan hasil belajar yang dicapai oleh siswa. Kawasan afektif yaitu kawasan yang berkaitan dengan
aspek-aspek emosional seperti perasaan, minat, sikap, kepatuhan terhadap moral
dan sebagainya. Di dalamnya mencakup penerimaan (receiving/attending),
sambutan(responding), tata nilai (valuing), pengorganisasian (organization),
dan karakterisasi (characterization).
Dalam
aspek ini peserta didik dinilai sejauh mana ia mampu menginternalisasikan
nilai-nilai pembelajaran ke dalam dirinya. Aspek afektif ini erat kaitannya
dengan tata nilai dan konsep diri. Dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam,
aqidah akhlak merupakan salah satu pelajaran yang tidak terpisahkan dari
domain/aspek afektif.
Cara Pengaflikasian Penilaian Afektif
Penilaian afektif (sikap) sangat menentukan
keberhasilan peserta didik untuk mencapai ketuntasan dan keberhasilan dalam
pembelajaran. Seorang peserta didik yang tidak memiliki minat terhadap mata
pelajaran tertentu, maka akan kesulitan untuk mencapai ketuntasan belajar
secara maksimal. Sedangkan peserta didik yang memiliki minat terhadap mata
pelajaran, maka akan sangat membantu untuk mencapai ketuntasan pembelajaran
secara maksimal.
Secara
umum aspek afektif yang perlu dinilai dalam proses pembelajaran terhadap
berbagai mata pelajaran mencakup beberapa hal, sebagai berikut:
1. Penilaian
sikap terhadap materi pelajaran. Berawal dari sikap positif terhadap mata
pelajaran akan melahirkan minat belajar, kemudian mudah diberi motivasi serta
lebih mudah dalam menyerap materi pelajaran.
2. Penilaian
sikap terhadap guru. Peserta didik perlu memilki sikap positif terhadap guru,
sehingga ia mudah menyerap materi yang diajarkan oleh guru.
3. Penilaian
sikap terhadap proses pembelajaran. Peserta didik perlu memiliki sikap positif
terhadap proses pembelajaran, sehingga pencapaian hasil belajar bisa maksimal.
Hal ini kembali kepada guru untuk pandai-pandai mencari metode yang kira-kira
dapat merangsang peserta didik untuk belajar serta tidak merasa jenuh.
4. Penilaian
sikap yang berkaitan dengan nilai atau norma yang berhubungan dengan suatu
materi pelajaran. Misalnya peserta didik mempunyai sikap positif terhadap upaya
sekolah melestarikan lingkungan dengan mengadakan program penghijauan sekolah.
5. Penilaian
sikap yang berkaitan dengan kompetensi afektif lintas kurikulum yang relevan
dengan mata pelajaran. Peserta didik memiliki sikap positif terhadap berbagai
kompetensi setiap kurikulum yang terus mengalami perkembangan sesuai dengan
kebutuhan.
Pengukuran
renah afektif meliputi lima jenjang kemampuan, yakni sebagai berikut:
1.Menerima
Jenjang ini berhubungan dengan kesediaan atau
kemauan siswa untuk ikut dalam fenomena atau stimulasi khusus (kegiatan dalam
kelas, baca buku dan sebagainya).dihubungkan dengan pengeajaran jenjang ini
berhubungan dengan menimbukkan, mempertahankan, dan mengarahkan perhatiana
siswa. Sedangkan perumusan untuk membuat soalnya yaitu menanyakan, menjawab,
menyebutkan, memilih, mengidentifikasi, memberikan, mengikuti, menyeleksi,
menggunakan, dan lain-lain
2.Menjawab
Kemapuan ini bertalian dengan partisipasi
siswa. Pada tingkat ini, siswa hanya menghadiri sesuatu fenomena tertentu
tetapi juga mereaksi terhadapnya dengan salah satu cara. Hasil belajardalam
jenjang ini dalapt menekankan kemauan untuk menjawab. Sedangkan perumusan
bentuk soalnya adalah menjawab, melakukan, menulis, menceritakan, membantu,
melaporkan, dan sebagainya
3.Menilai
Jenjang ini bertalian dengan nilai yang
dikenakan siswa terhadap suatu objek, fenomena, atau tingkah laku tertentu,
jenjang ini berjenjang mulai dari hanya sekedar penerima nilai sampai ketingkat
komitmen keterampilan. Sedangkan perumusan soalnya menerangkan, membedakan,
memilih, mempelajari, mengusulkan, menggambarkan, menggabung, mempelajari,
menyeleksi, bekerja, membaca, dan sebagainya;
4.Organisasi
Yaitu menyatukan nilai yang berbeda,
menyelesaikan masalah diantara nilai itu sendiri, jadi tugas seorang guru dalam
mengevaluasi ialah memberikan penekanan pada membandingkan, menghubungkan dan
mensistensikan nilai-nilai. Mengorganisasikan, mengatur, membandingkan,
mengintegrasikan, memodifikasi, menghubungkan, menyusun, memadukan,
menyelesaikan, mempertahankan, menjelaskan, menyatukan, dan lain-lain;
5.Karakterisasi
dengan suatu nilai atau kompleks nilai
Pada jenjang ini individu memiliki system
nilai yang mengontrol tingkah lakunya untuk suatu waktu yang cukup lama
sehingga membentuk karakteristik “pola hidup”. Jadi, tingkah lakunya menetap,
konsisten, dan dapat diramalkan. Hasil belajar meliputi sangat banyak kegiatan,
tapi menekankan lebih besar diletakkan pada kenyataan bahwa tingkah laku itu
menjadi ciri khas atau karakteristik siswa itu.
Penilaian Psikomotorik
Penilaian Psikomotorik dicirikan
oleh adanya aktivitas fisik dan keterampilan kinerja oleh siswa serta tidak
memerlukan penggunaan kertas dan pensil/pena.seperti yang dinyatakan oleh Bloom
dalam bukunya Ismet Basuki dan Hariyanto yang berjudul Asesmen Pembelajaran.
Bloom mengatakan bahwa ranah psikomotor berhubungan dengan hasil belajar yang
pencapaiannya melalui keterampilan manipulasi yang melibatkan otot dan kekuatan
fisik. Siswa melaksanakan suatu tugas tertentu yang memerlukan keterampilan,
misla dalam praktik berpidato pada pembelajaran bahasa Indonesia, Praktik
Shalat dalam pelajaran agama, praktik olahraga dalam pendidikan jasmani,
praktik-praktik di laboratorium IPA, praktik menjahit, memasak makanan dan
menyajikan hidangan dalam pelajran keterampilan ruamh tangga, dan lain
sebagianya
Dengan kata lain, kegiatan belajar
yang banyak berhubungan dengan ranah psikomotorik adalahpraktik di
aula/lapangan, di bengkel, dan praktikum di laboratorium. Dalam
kegiatan-kegiatan praktik itu juga ada ranah kogitif dan afektifnya. Dalam
hubungan ini guru melakukan pengamatan untuk menilai dan menentukan apakah
siswa sudah terampil atau belum, memerlukan kerja sama kelompok dinilai
keterampilan kerja sama siswa serta keterampilan kepemimpinan siswa dan lain
sebagainya
Dalam
penilaian psikomotorik, tujuan pembelajaran disesuaikan dengan ranah
psikomotor. R.H. Dave (1970) membagi hasil belajar ranah psikomotor menjadi
lima tahapyaitu:
a. imitasi (imitation)
imitasi adalah
kemampuan melakukan kegiatan-kegiatan sederhana dan sama persis dengan yang
dilihat atau di perhatikan sebelumnya.
b. manipulasi (manipulation)
manipulasi
adalah kemampuan melakukan kegiatan sederhana yang belum pernah dilihatnya tetapi
berdasarkan pada pedoman atau petunjuk saja.
c. presisi (precision).
Presisis adalah
kemampuan melakukan kegiatan-kegiatan akurat sehingga mampu menghasilkan produk
kerja yang presisi.
d. artikulasi (articulation)
artikulasi
yaitu kemampuan melakukan kegiatan kompleks dan ketepatan sehingga produk
kerjanya utuh.
e. naturalisasi (naturalization).
Naturalisasi yaitu kemampuan melakukan kegiatan secara
refleks yaitu keiatan melibatkan fisik saja sehingga efektivitas kerja tinggi.
Kalau penilaian kognitif pasti dr hasil belajar siswa berupa nilai yg didapat (pengetahuan) dn psikomotor pun dapat juga bisa dr ketrampilan siswa tersebut. Nah kalau Afektif (sikap). Bagaimana menilainya? Sikap yg bagaimana yg harus kita nilai? Apakah dr siswa mengikapi pembelajaran? Atau dikategorikan sikap yg lain diluar pelajaran?
BalasHapusuntuk penilaian sikap bisa dilakukan selama proses belajar mengajar berlangsung misal melalui observasi, bagaimana motivasi belajar siswa, kedisiplinan dalam mengerjakan tugas, keaktifan selama pembelajaran. semuanya dapat dilakukan penilaian oleh guru melalui buku catatan khusus siswa
BalasHapusApakah hal itu efektif untuk menentukan hasil belajar siswa secara keseluruhan kak?? Bagaimana dg siswa yg memiliki kognitif tinggi sementara efektifnya rendah?? Apakah siswa tersebut blm bisa dikatakan berhasil??
BalasHapusdalam penilaian terhadap hasil belajar siswa banyak sekali aspek yang perlu diperhatikan,, guru tidak bisa menjudge seorang siswa bodoh hanya karena selalu remedial di mata pelajarannya,, tiap siswa punya bakat dan kemampuan yang berbeda. Tentu guru sudah mempunyai kriteria tertentu dalam menentukan siswa tersebut berhasil atau tidak dalam mata pelajarannya. Untuk siswa dengan afektif rendah juga harus dijadikan pertimbangan khusus dalam memberikan penilaian akhir, misal siswa tersebut pintar tetapi tidak diimbangi dengan perilakunya, tentu menjadi pertimbangan guru dalam memberikan penilaian akhir pada siswa tersebut
BalasHapus