Penilaian Otentik
Penilaian otentik atau authentic
assessment merupakan penilaian langsung (direct assessment) dan ukuran
langsung (Mueller, 2006:1), penilaian otentik lebih sering dinyatakan sebagai
penilaian berbasis kinerja (performance based assessment), penilaian
alternatif (alternative assessment) atau penilaian kinerja (performance
assessment) Penilaian otentik adalah proses pengumpulan informasi oleh
guru tentang perkembangan dan pencapaian pembelajaran yang dilakukan oleh
peserta didik melalui berbagai teknik yang mampu mengungkapkan, membuktikan
atau menunjukkan secara tepat bahwa tujuan pembelajaran telah benar-benar
dikuasai dan dicapai (Nurhadi, 2004: 172)
Sebagaimana Nurhadi mengemukakan
bahwa karakteristik penilaian otentik adalah sebagai berikut: 1) melibatkan
pengalaman nyata (involves real-world experience), 2) dilaksanakan
selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung, 3) mencakup penilaian
pribadi (self assesment) dan refleksi, 4) yang diukur keterampilan dan
performansi, bukan mengingat fakta, 5) berkesinambungan, 6) terintegrasi, 7)
dapat digunakan sebagai umpan balik, 8) kriteria keberhasilan dan kegagalan
diketahui siswa dengan jelas
Penilaian otentik pada dasarnya
bertujuan untuk mengukur berbagai keterampilan yang mencerminkan situasi di
dunia nyata di mana keterampilan-keterampilan tersebut digunakan. Di dalam
penilaian otentik pengetahuan dan keterampilan merupakan dua hal yang utama dan
tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain. Dalam hal ini siswa
menguasai pengetahuan yang dibutuhkannya sebagai tujuan akhir
pembelajaran.
Bentuk-bentuk penilaian otentik
menurut Kusmana (2010: 3), sebagai berikut: a) unjuk kerja (performance),
b) penugasan (project), c) kinerja (hasil karya/product), d)
portofolio (kumpulan kerja siswa), dan e) penilaian diri (self assessment). Ahli
lain mengatakan bahwa penilaian otentik dalam pendidikan dapat menggunakan
berbagai jenis alat penilaian yaitu : (1) Rubrik/Pemandu Penskoran, (2)
Portofolio/e-portofolio, (3) Tugas Otentik, (4) Penilaian diri (Self
Assessment), (5) Interviu/Wawancara, (6) Menceritakan Kembali kisah atau
sebuah teks, (7) Contoh penulisan, (8) Proyek/Pameran, (9) Eksperimen/
Demonstrasi, (10) Soal berbentuk tanggapan terkonstruksi (Constructed response
items), (11) Catatan observasi guru, (12) Jurnal/Entri buku harian, (13) Karya
tulis, (14) Kuis lisan, (15) Character map, (16) Graphic organizer, (17) Check
list, (18) Reading Log, (19) Rekaman Video, (20) Rekaman proses diskusi, dan
(21) Anecdotal record (Ismet Basuki dan Hariyanto, 2014 : 171-173).
Adapun ciri-ciri penilaian otentik
adalah sebagai berikut:
a. Penilaian harus mengukur semua aspek pembelajaran,
yakni kinerja dan hasil atau produk. Artinya, dalam melakukan penilaian
terhadap peserta didik harus mengukur aspek kinerja (performance) dan produk
atau hasil yang dikerjakan oleh peserta didik. Penilaian kinerja atau produk
dipastikan bahwa kinerja atau produk tersebut merupakan cerminan dari
kompetensi peserta didik secara nyata dan objektif.
b. Penilaian dilaksanakan selama dan sesudah proses
pembelajaran. Artinya, dalam melakukan penilaian terhadap peserta didik, guru
dituntut untuk melakukan penilaian terhadap kemampuan atau kompetensi proses
(kemampuan atau kompetensi peserta didik dalam kegiatan pembelajaran) dan
kemampuan atau kompetensi peserta didik setelah melakukan kegiatan
pembelajaran.
c. Penilaian menggunakan berbagai cara dan sumber.
Dalam melakukan penilaian terhadap peserta didik harus menggunakan beberapa
teknik penilaian (disesuaikan dengan tuntutan kompetensi) dan menggunakan
berbagai sumber atau data yang bisa digunakan sebagai informasi yang
menggambarkan penguasaan kompetensi peserta didik.
d. Penilaian bentuk tes hanya salah satu alat
pengumpul data penilaian. Artinya, dalam melakukan penilaian peserta didik
terhadap pencapaian kompetensi tertentu harus secara komprehensif dan tidak
hanya mengandalkan hasil tes semata. Informasiinformasi lain yang mendukung
pencapaian kompetensi peserta didik dapat dijadikan bahan dalam melakukan
penilaian.
e. Tugas-tugas yang diberikan kepada peserta didik
harus mencerminkan bagian-bagian kehidupan peserta didik yang nyata setiap
hari, mereka harus dapat menceritakan pengalaman atau kegiatan yang mereka
lakukan setiap hari.
f. Penilaian harus menekankan kedalaman pengetahuan
dan keahlian peserta didik, bukan keluasannya (kuantitas) Artinya, dalam
melakukan penilaian peserta didik terhadap pencapaian kompetensi harus mengukur
kedalaman terhadap pengusaan kompetensi tertentu secara objektif
Manfaat yang diperoleh dari pelaksanaan penilaian otentik
adalah sebagai berikut:
a. Penggunaan penilaian otentik memungkinkan
dilakukannya pengukuran secara langsung terhadap kinerja pembelajar sebagai
indikator capaian kompetensi yang dibelajarkan. Penilaian yang hanya mengukur
capaian pengetahuan yang telah dikuasai pembelajar hanya bersifat tidak
langsung. Tetapi, penilaian otentik menuntut pembelajar untuk berunjuk kerja
dalam situasi yang konkret dan sekaligus bermakna yang secara otomatis juga
mencerminkan penguasaan dan keterampilan keilmuannnya. Unjuk kerja tersebut
bersifat langsung, langsung terkait dengan konteks situasi dunia nyata dan
tampilannya juga dapat diamati langsung. Hal itu lebih mencerminkan tingkat
capaian pada bidang yang dipelajari.
b. Penilaian otentik memberi kesempatan pembelajar
untuk mengkonstruksikan hasil belajarnya. Penilaian haruslah tidak sekadar
meminta pembelajar mengulang apa yang telah dipelajari karena hal demikian
hanyalah melatih mereka menghafal dan mengingat saja yang kurang bermakna.
Dengan penilaian otentik pembelajar diminta untuk mengkonstruksikan apa yang
telah diperoleh ketika mereka dihadapkan pada situasi konkret. Dengan cara ini
pembelajar akan menyeleksi dan menyusun jawaban berdasarkan pengetahuan yang
dimiliki dan analisis situasi yang dilakukan agar jawabannya relevan dan
bermakna.
c. Penilaian otentik memungkinkan terintegrasikannya
kegiatan pengajaran, belajar, dan penilaian menjadi satu paket kegiatan yang
terpadu. Dalam pembelajaran tradisional, juga model penilaian tradisional,
antara kegiatan pengajaran dan penilaian merupakan sesuatu yang terpisah, atau
sengaja dipisahkan. Namun, tidak demikian halnya dengan model penilaian
otentik.
Dala tulisan blog penilaian otentik ini alangkah bagusnya dapat sekaligus diberikan contoh atau permasalah dalam kimia yang dapat mencerminkan penilaian otentik yaitu pembelajaran kimia yang dapat dikaitkan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya atom dalam kehidupan sehari-hari, contoh asam atau basa yang dapat diterapkan dalam kehidupan, pengaruh suhu terhadap reaksi larutan, ataupun contoh koloid dalam kehidupan sehari-hari.Termasuk pemanfaatan penilaian otentik yang dalam pembelajaran kimia.
BalasHapusterima kasih atas masukannya.. pada pada postingan saya yang lain sudah ada mencontohkan penilaian otentik dalam pembelajaran kimia seperti penilaian laboratorium
BalasHapusNah kalau begitu kak kami ada satu pertanyaan. Bagaimana cara atau apa cara yg akan dilakukan agar penilaian yg dilakukan tertuju atau dapat disebut dengan penilaian yg otentik khusus dalam pembelajaran kimia.
BalasHapusseperti yang dituliskan, penilaian otentik adalah penilaian yang dilakukan oleh guru selama proses belajar mengajar dapat melalui observasi, kinerja, tes tertulis melalui alat penilaian seperti portofolio, rubrik, proyek. misalnya pada kegiatan praktikum maka guru akan melakukan penilaian selama siswa melakukan praktikum dengan rubrik kinerja, lembar observasi, laporan praktikum
BalasHapus