Selasa, 14 Maret 2017

Prinsip Penilaian Otentik



Penilaian Otentik
Penilaian otentik atau authentic assessment merupakan penilaian langsung (direct assessment) dan ukuran langsung (Mueller, 2006:1), penilaian otentik lebih sering dinyatakan sebagai penilaian berbasis kinerja (performance based assessment), penilaian alternatif (alternative assessment) atau penilaian kinerja (performance assessment) Penilaian otentik adalah proses pengumpulan informasi oleh guru tentang perkembangan dan pencapaian pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik melalui berbagai teknik yang mampu mengungkapkan, membuktikan atau menunjukkan secara tepat bahwa tujuan pembelajaran telah benar-benar dikuasai dan dicapai (Nurhadi, 2004: 172)
Sebagaimana Nurhadi mengemukakan bahwa karakteristik penilaian otentik adalah sebagai berikut: 1) melibatkan pengalaman nyata (involves real-world experience), 2) dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung, 3) mencakup penilaian pribadi (self assesment) dan refleksi, 4) yang diukur keterampilan dan performansi, bukan mengingat fakta, 5) berkesinambungan, 6) terintegrasi, 7) dapat digunakan sebagai umpan balik, 8) kriteria keberhasilan dan kegagalan diketahui siswa dengan jelas
Penilaian otentik pada dasarnya bertujuan untuk mengukur berbagai keterampilan yang mencerminkan situasi di dunia nyata di mana keterampilan-keterampilan tersebut digunakan. Di dalam penilaian otentik pengetahuan dan keterampilan merupakan dua hal yang utama dan tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain. Dalam hal ini siswa menguasai pengetahuan yang dibutuhkannya sebagai tujuan akhir pembelajaran.
Bentuk-bentuk penilaian otentik menurut Kusmana (2010: 3), sebagai berikut: a) unjuk kerja (performance), b) penugasan (project), c) kinerja (hasil karya/product), d) portofolio (kumpulan kerja siswa), dan e) penilaian diri (self assessment). Ahli lain mengatakan bahwa penilaian otentik dalam pendidikan dapat menggunakan berbagai jenis alat penilaian yaitu : (1) Rubrik/Pemandu Penskoran, (2) Portofolio/e-portofolio, (3) Tugas Otentik, (4) Penilaian diri (Self Assessment), (5) Interviu/Wawancara, (6) Menceritakan Kembali kisah atau sebuah teks, (7) Contoh penulisan, (8) Proyek/Pameran, (9) Eksperimen/ Demonstrasi, (10) Soal berbentuk tanggapan terkonstruksi (Constructed response items), (11) Catatan observasi guru, (12) Jurnal/Entri buku harian, (13) Karya tulis, (14) Kuis lisan, (15) Character map, (16) Graphic organizer, (17) Check list, (18) Reading Log, (19) Rekaman Video, (20) Rekaman proses diskusi, dan (21) Anecdotal record (Ismet Basuki dan Hariyanto, 2014 : 171-173).
Adapun ciri-ciri penilaian otentik adalah sebagai berikut:
a. Penilaian harus mengukur semua aspek pembelajaran, yakni kinerja dan hasil atau produk. Artinya, dalam melakukan penilaian terhadap peserta didik harus mengukur aspek kinerja (performance) dan produk atau hasil yang dikerjakan oleh peserta didik. Penilaian kinerja atau produk dipastikan bahwa kinerja atau produk tersebut merupakan cerminan dari kompetensi peserta didik secara nyata dan objektif.
b. Penilaian dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran. Artinya, dalam melakukan penilaian terhadap peserta didik, guru dituntut untuk melakukan penilaian terhadap kemampuan atau kompetensi proses (kemampuan atau kompetensi peserta didik dalam kegiatan pembelajaran) dan kemampuan atau kompetensi peserta didik setelah melakukan kegiatan pembelajaran.
c. Penilaian menggunakan berbagai cara dan sumber. Dalam melakukan penilaian terhadap peserta didik harus menggunakan beberapa teknik penilaian (disesuaikan dengan tuntutan kompetensi) dan menggunakan berbagai sumber atau data yang bisa digunakan sebagai informasi yang menggambarkan penguasaan kompetensi peserta didik.
d. Penilaian bentuk tes hanya salah satu alat pengumpul data penilaian. Artinya, dalam melakukan penilaian peserta didik terhadap pencapaian kompetensi tertentu harus secara komprehensif dan tidak hanya mengandalkan hasil tes semata. Informasiinformasi lain yang mendukung pencapaian kompetensi peserta didik dapat dijadikan bahan dalam melakukan penilaian.
e. Tugas-tugas yang diberikan kepada peserta didik harus mencerminkan bagian-bagian kehidupan peserta didik yang nyata setiap hari, mereka harus dapat menceritakan pengalaman atau kegiatan yang mereka lakukan setiap hari.
f. Penilaian harus menekankan kedalaman pengetahuan dan keahlian peserta didik, bukan keluasannya (kuantitas) Artinya, dalam melakukan penilaian peserta didik terhadap pencapaian kompetensi harus mengukur kedalaman terhadap pengusaan kompetensi tertentu secara objektif

Manfaat yang diperoleh dari pelaksanaan penilaian otentik adalah sebagai berikut:
a. Penggunaan penilaian otentik memungkinkan dilakukannya pengukuran secara langsung terhadap kinerja pembelajar sebagai indikator capaian kompetensi yang dibelajarkan. Penilaian yang hanya mengukur capaian pengetahuan yang telah dikuasai pembelajar hanya bersifat tidak langsung. Tetapi, penilaian otentik menuntut pembelajar untuk berunjuk kerja dalam situasi yang konkret dan sekaligus bermakna yang secara otomatis juga mencerminkan penguasaan dan keterampilan keilmuannnya. Unjuk kerja tersebut bersifat langsung, langsung terkait dengan konteks situasi dunia nyata dan tampilannya juga dapat diamati langsung. Hal itu lebih mencerminkan tingkat capaian pada bidang yang dipelajari.
b. Penilaian otentik memberi kesempatan pembelajar untuk mengkonstruksikan hasil belajarnya. Penilaian haruslah tidak sekadar meminta pembelajar mengulang apa yang telah dipelajari karena hal demikian hanyalah melatih mereka menghafal dan mengingat saja yang kurang bermakna. Dengan penilaian otentik pembelajar diminta untuk mengkonstruksikan apa yang telah diperoleh ketika mereka dihadapkan pada situasi konkret. Dengan cara ini pembelajar akan menyeleksi dan menyusun jawaban berdasarkan pengetahuan yang dimiliki dan analisis situasi yang dilakukan agar jawabannya relevan dan bermakna.
c. Penilaian otentik memungkinkan terintegrasikannya kegiatan pengajaran, belajar, dan penilaian menjadi satu paket kegiatan yang terpadu. Dalam pembelajaran tradisional, juga model penilaian tradisional, antara kegiatan pengajaran dan penilaian merupakan sesuatu yang terpisah, atau sengaja dipisahkan. Namun, tidak demikian halnya dengan model penilaian otentik.

4 komentar:

  1. Dala tulisan blog penilaian otentik ini alangkah bagusnya dapat sekaligus diberikan contoh atau permasalah dalam kimia yang dapat mencerminkan penilaian otentik yaitu pembelajaran kimia yang dapat dikaitkan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya atom dalam kehidupan sehari-hari, contoh asam atau basa yang dapat diterapkan dalam kehidupan, pengaruh suhu terhadap reaksi larutan, ataupun contoh koloid dalam kehidupan sehari-hari.Termasuk pemanfaatan penilaian otentik yang dalam pembelajaran kimia.

    BalasHapus
  2. terima kasih atas masukannya.. pada pada postingan saya yang lain sudah ada mencontohkan penilaian otentik dalam pembelajaran kimia seperti penilaian laboratorium

    BalasHapus
  3. Nah kalau begitu kak kami ada satu pertanyaan. Bagaimana cara atau apa cara yg akan dilakukan agar penilaian yg dilakukan tertuju atau dapat disebut dengan penilaian yg otentik khusus dalam pembelajaran kimia.

    BalasHapus
  4. seperti yang dituliskan, penilaian otentik adalah penilaian yang dilakukan oleh guru selama proses belajar mengajar dapat melalui observasi, kinerja, tes tertulis melalui alat penilaian seperti portofolio, rubrik, proyek. misalnya pada kegiatan praktikum maka guru akan melakukan penilaian selama siswa melakukan praktikum dengan rubrik kinerja, lembar observasi, laporan praktikum

    BalasHapus